Dioda
1.Pengertian Dioda
Pengertian Dioda
adalah komponen aktif yang memiliki dua kutub dan bersifat
semikonduktor. Dioda juga bisa dialiri arus listrik ke satu arah dan
menghambat arus dari arah sebaliknya. Dioda
sebenarnya tidak memiliki karakter yang sempurna, melainkan memiliki
karakter yang berhubungan dengan arus dan tegangan komplek yang tidak
linier dan seringkali tergantung pada teknologi yang digunakan serta
parameter penggunaannya.
Awal mulanya dioda adalah sebuah piranti kristal Cat’s Wahisker dan
tabung hampa. Sedangkan pada saat ini, dioda sudah banyak dibuat dari
bahan semikonduktor, contohnya : Silikon dan Germanium. Di karenakan
pengembangannya yang dilakukan secara terpisah, dioda kristal
(semikonduktor) lebih populer di bandingkan dengan dioda termionik.
Dioda termionik pertama kali ditemukan oleh Frederick Guthrie pada tahun
1873, sedangkan dioda kristal ditemukan pada tahun 1874 oleh peneliti
asal Jerman, Karl Ferdinand Braun.Gambar Tentang Pengertian Dioda
Pengertian Dioda Termionik adalah piranti katub yang merupakan susunan elektroda di dalam sampul gelas. Bentuk pertama kali dari dioda termionik hampir sama dengan bola lampu pijar. Di dalam katub dioda termionik, arus listrik yang melalui filamen pemanas secara tidak langsung memanaskan katoda. Elektroda internal lainnya dilapisi dengan campuran barium dan strontium oksida yang merupakan oksida dari logam alkali tanah. Dari kegiatan tersebut menghasilkan pancaran termionik elektron ke ruang hampa. Walaupun demikian, elektron tidak dapat di pancarkan dengan mudah ke permukaan anoda yang tidak terpanasi ketika polaritas tegangan di balik.Pengertian Dioda Semikondutor sebagian besar terdapat pada teknologi pertemuan P-N semikonduktor. Dioda P-N terdapat arus yang mengalir dari sisi Tipe-P (anoda) menuju sisi Tipe-N (katoda), akan tetapi tidak dapat mengalir ke arah sebaliknya. Dioda semikonduktor memiliki tipe lain yaitu dioda schottky yang di bentuk dari pertemuan antara logam dan semikonduktor sebagai ganti dari pertemuan P-N konvensional.
2.Bentuk Dioda
Jenis-Jenis Dioda terbagi menjadi beberapa bagian, mulai dari Light Emiting Diode (Dioda Emisi Cahaya) yang biasa disingkat LED, Diode Photo (Dioda Cahaya), Diode Varactor (Dioda Kapasitas), Diode Rectifier (Dioda Penyearah) dan yang terakhir adalah Diode Zener yang biasa disebut juga sebagai Voltage Regulation Diode. Semua jenis dioda ini memiliki fungsi yang berbeda-beda yang sesuai dengan nama dioda itu sendiri. Dioda disempurnakan oleh William Henry Eccles pada tahun 1919 dan mulai memperkenalkan istilah diode yang artinya dua jalur tersebut, walaupun sebelumnya sudah ada dioda kristal (semikonduktor) yang dikembangkan oleh peneliti asal Jerman yaitu Karl Ferdinan Braun pada tahun 1874, dan dioda termionik pada tahun 1873 yang dikembangkan lagi prinsip kerjanya oleh Frederic Gutherie.
Lambang Dioda

Ada berbagai jenis dioda yang dibuat sesuai dengan fungsinya tanpa meninggalkan karakteristik serta spesifikasinya, seperti dioda penyearah (rectifier), dioda Emisi Cahaya (LED), dioda Zenner, dioda photo (Photo-Dioda) dan Dioda Varactor.
A. DIODA PENYEARAH (RECTIFIER)
Dioda penyearah adalah jenis dioda yang
terbuat dari bahan Silikon yang berfungsi sebagai penyearah tegangan / arus
dari arus bolak-balik (ac) ke arus
searah (dc) atau mengubah arus ac
menjadi dc. Secara umum dioda ini disimbolnya.
Kaki-kaki dioda
yaitu kaki katoda ditandai dengan garis pada ujungnya
Gambar
1. dioda penyearah
B. DIODA ZENER
Dioda Zener merupakan dioda junction P
dan N yang terbuat dari bahan dasar silikon. Dioda ini dikenal juga sebagai
Voltage Regulation Diode yang bekerja pada daerah reverse (kuadran III). Potensial dioda zener berkisar mulai 2,4 sampai 200
volt dengan disipasi daya dari ¼ hingga 50 watt.
Fenomena tegangan breakdown
dioda ini menginspirasi pembuatan komponen elektronika kerabat dioda yang
bernama Zener. Tidak ada perbedaan struktur dasar dari Zener dengan dioda.
Dengan memberi jumlah doping yang lebih banyak pada sambungan P dan N, ternyata
tegangan breakdown dioda bisa makin cepat tercapai. Jika pada dioda biasanya
baru terjadi breakdown pada tegangan ratusan volt, pada Zener bisa terjadi pada
angka puluhan dan satuan volt. Di datasheet ada Zener yang memiliki tegangan Vz
sebesar 2 volt, 5.6 volt dan sebagainya. Fungsi dari komponen ini biasanya
dipakai untuk pengamanan rangkaian setelah tegangan Zener.
Gambar 2. dioda zener
Perhatikan rangkaian berikut,
input tegangan akan yang masuk ke rangkaian lain dan beban akan dibatasi oleh
dioda zener. Jika input tegangan dibawah 5.6V, dioda tidak menghantarkan arus
sehingga arus akan mengalir ke rangkaian lain dan beban. Jika input tegangan
mencapai 5,6 V atau lebih maka dioda zener akan terjadi brekadown dan arus akan
mengalir melalui dioda, bukan ke rangkaian atau beban.
C. DIODA EMISI CAHAYA ( LIGHT EMITTING DIODE )
Dioda emisi cahaya atau dikenal dengan
singkatan LED merupakan Solid State Lamp yang merupakan piranti elektronik
gabungan antara elektronik dengan optik, sehingga dikategorikan pada keluarga
“Optoelectronic”. Sedangkan elektroda-elektrodanya sama seperti dioda lainnya,
yaitu anoda (+) dan Katoda (-). Ada tiga kategori umum penggunaan LED, yaitu
:
- Sebagai lampu indikator,
- Untuk transmisi sinyal cahaya
yang dimodulasikan dalam suatu jarak tertentu,
- Sebagai penggandeng rangkaian
elektronik yang terisolir secara total. Simbol,
bangun fisiknya dan konstruksinya diperlihatkan pada gambar berikut.
Bahan dasar yang digunakan dalam
pembuatan LED adalah bahan Galium Arsenida (GaAs)
atau Galium Arsenida Phospida (GaAsP)
atau juga Galium Phospida (GaP),
bahan-bahan ini memancarkan cahaya dengan warna yang berbeda-beda. Bahan GaAs
memancarkan cahaya infra-merah, Bahan GaAsP memancarkan cahaya merah atau
kuning, sedangkan bahan GaP memancarkan cahaya merah atau hijau.
Seperti halnya piranti elektronik
lainnya , LED mempunyai nilai besaran terbatas dimana tegangan majunya
dibedakan atas jenis warna
TABEL LED DAN
TEGANGANYA
Warna
|
Tegangan Maju
|
Merah
|
1.8 volt
|
Orange
|
2.0 volt
|
Kuning
|
2.1 volt
|
Hijau
|
2.2 volt
|
Gambar 3. dioda LED
Sedangkan besar arus maju suatu
LED standard adalah sekitar 20 mA. Karena dapat mengeluarkan cahaya, maka
pengujian LED ini mudah, cukup dengan menggabungkan dengan sumber tegangan dc
kecil saja atau dengan ohmmeter dengan polaritas yang sesuai dengan
elektrodanya.
LED konvensional terbuat dari mineral inorganik yang bervariasi sehingga menghasilkan warna sebagai berikut:
* Aluminium Gallium Arsenide (AlGaAs) – merah dan inframerah
* Gallium Aluminium Phosphide – hijau
* Gallium Arsenide/Phosphide (GaAsP) – merah, oranye-merah, oranye, dan kuning
* Gallium Nitride (GaN) – hijau, hijau murni (atau hijau emerald), dan biru
* Gallium Phosphide (GaP) – merah, kuning, dan hijau
* Zinc Selenide (ZnSe) – biru
* Indium Gallium Nitride (InGaN) – hijau kebiruan dan biru
* Indium Gallium Aluminium Phosphide – oranye-merah, oranye, kuning, dan hijau
* Silicon Carbide (SiC) – biru
* Diamond (C) – ultraviolet
* Silicon (Si) – biru (dalam pengembangan)
* Sapphire (Al2O3) – biru
LED biru pertama kali dan bisa dikomersialkan menggunakan substrat galium nitrida. LED ini ditemukan oleh Shuji Nakamura tahun 1993 sewaktu berkarir di Nichia Corporation di Jepang.
LED ini kemudian populer di penghujung tahun 90-an. LED biru ini dapat dikombinasikan ke LED merah dan hijau yang telah ada sebelumnya untuk menciptakan cahaya putih.
D. DIODA CAHAYA ( PHOTO-DIODE)
Dioda cahaya ini bekerja pada daerah
reverse, jadi hanya arus bocor saja yang melewatinya. Dalam keadaan gelap, arus
yang mengalir sekitar 10 A untuk dioda cahaya dengan bahan dasar germanium dan
1A untuk bahan silikon. Kuat cahaya dan temperature keliling dapat menaikkan
arus bocor tersebut karena dapat mengubah nilai resistansinya dimana semakin
kuat cahaya yang menyinari semakin kecil nilai resistansi dioda cahaya
tersebut. Penggunaan dioda cahaya diantaranya adalah sebagai sensor dalam
pembacaan pita data berlubang (Punch
Tape), dimana pita berlubang tersebut terletak diantara sumber cahaya dan
dioda cahaya. Jika setiap lubang pita itu melewati antara tadi, maka cahaya
yang memasuki lubang tersebut akan diterima oleh dioda cahaya dan diubah dalam
bentuk signal listrik. Sedangkan penggunaan lainnya adalah dalam alat pengukur
kuat cahaya (Lux-Meter), dimana
dalam keadaan gelap resistansi dioda cahaya ini tinggi sedangkan jika disinari
cahaya akan berubah rendah. Selain itu banyak juga dioda cahaya ini digunakan
sebagai sensor sistem pengaman (security)
misal dalam penggunaan alarm.
Gambar 4. dioda foto.
E. DIODA
VARACTOR
Dioda Varactor disebut juga sebagai
dioda kapasitas yang sifatnya mempunyai kapasitas yang berubah-ubah jika
diberikan tegangan. Dioda ini bekerja didaerah reverse mirip dioda Zener. Bahan
dasar pembuatan dioda varactor ini adalah silikon dimana dioda ini sifat
kapasitansinya tergantung pada tegangan yang diberikan padanya. Jika tegangan
tegangannya semakin naik, kapasitasnya akan turun. Dioda varikap banyak
digunakan pada pesawat penerima radio dan televisi di bagian pengaturan suara (Audio).
Gambar 5. dioda varactor
F. DIODA SCHOTTKY
(SCR)
DIODA
SCR singkatan dari Silicon Control Rectifier.
Adalah Dioda yang mempunyai fungsi sebagai pengendali. SCR atau Tyristor masih
termasuk keluarga semikonduktor dengan karateristik yang serupa dengan tabung
thiratron. Sebagai pengendalinya adalah gate(G).SCR sering disebut Therystor. SCR sebetulnya dari bahan
campuran P dan N. Isi SCR terdiri dari PNPN (Positif Negatif Positif Negatif) dan biasanya disebut PNPN Trioda.
Gambar 6. dioda schottky.
Pada gambar diatas terlihat SCR dengan anoda pada kaki yang
berulir, Gerbang gate pada kaki yang pendek, sedangkan katoda pada kaki yang
panjang.3.Cara Kerja Dioda
Prinsip Kerja Dioda pada umumnya adalah sebagai alat yang terbentuk dari beberapa bahan semikonduktor dengan muatan Anode (P) dan muatan Katode (N) yang biasanya terdiri dari geranium atau silikon yang digabungkan, dan muatan yang bertipe N merupakan bahan dengan kelebihan elektron, dan sebaliknya muatan bertipe P merupakan bahan dengan kekurangan satu elektron yang dipisahkan oleh depletion layer yang terjadi akibat keseimbangan kedua muatan tersebut, oleh karena itu dioda tersebut menghasilkan suatu hole yang berfungsi sebagai pembawa tegangan atau muatan sehingga terjadi perpindahan sekaligus pengaliran arus yang terjadi di hole tersebut yang menghasilkan tegangan arus searah atau biasa disebut dengan DC.
Prinsip Kerja Dioda berbeda dengan prinsip atau teori elektron yang menyebutkan bahwa arus listrik yang terjadi dikarenakan oleh pergerakan elektron dari kutub positif menuju ke kutub negatif, tetapi dioda ini hanya mengalirkan arus satu arah saja, yaitu DC. Oleh karena jika dioda dialiri oleh tegangan P yang lebih besar dari muatan N, maka elektron yang terdapat pada muatan N akan mengalir ke muatan P yang disebut sebagai Forward Bias, bila terjadi sebaliknya, yaitu jika dioda tersebut dialiri dengan tegangan N yang lebih besar daripada tegangan P, maka elektron yang ada di dalamnya tidak akan bergerak, sehingga dioda tidak mengaliri muatan apapun, pada kondisi seperti ini sering disebut sebagai reverse bias.
Gambar Skema Prinsip Kerja Dioda

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Prinsip Kerja Dioda merupakan salah satu alat yang sangat unik karena mampu memanipulasi muatan hingga menjadi muatan yang searah atau DC. Sambungan antara muatan anoda (P) dengan muatan katoda (N) dinamakan sebagai depletion layer (lapisan deplesi) dimana terjadi keseimbangan muatan elektron dan hole. Biasanya pada sisi P banyak terbentuk hole-hole yang siap menerima muatan elektron, sedangkan pada sisi N banyak elektron yang siap untuk membebaskan diri, dengan kata lain jika sisi P diberi muatan potensial yang lebih, maka elektron dari sisi N akan langsung mengisi setiap hole-hole yang ada di sisi P.
4.Fungsi Dioda
Fungsi Dioda sangat penting didalam rangkaian elektronika. Karena dioda adalah komponen semikonduktor yang terdiri dari penyambung P-N. Dioda merupakan gabungan dari dua kata elektroda, yaitu anoda dan katoda. Sifat lain dari dioda adalah menghantarkan arus pada tegangan maju dan menghambat arus pada aliran tegangan balik. Selain itu, masih banyak lagi fungsi dioda lainnya, sebagai berikut :
- Sebagai penyearah untuk komponen dioda bridge.
- Sebagai penstabil tegangan pada komponen dioda zener.
- Sebagai pengaman atau sekering.
- Sebagai pemangkas atau pembuang level sinyal yang ada di atas atau bawah tegangan tertentu pada rangkaian clipper.
- Sebagai penambah komponen DC didalam sinyal AC pada rangkaian clamper.
- Sebagai pengganda tegangan.
- Sebagai indikator untuk rangkaian LED (Light Emiting Diode).
- Dapat digunakan sebagai sensor panas pada aplikasi rangkaian power amplifier.
- Sebagai sensor cahaya pada komponen dioda photo.
- Sebagai rangkaian VCO (Voltage Controlled Oscilator) pada komponen dioda varactor.
Gambar Tentang Fungsi Dioda

Pada umumnya, dioda terbuat dari bahan silikon yang sudah dibekali tegangan pemicu. Tegangan pemicu ini sangat diperlukan agar elektron bisa langsung mengisi hole melalui area depletin layer. Didalam komponen dioda tidak akan terjadi pemindahan elekrton hole dari P ke N maupun sebaliknya. Itu di sebabkan hole dan elektron akan tertarik ke arah kutub yang berlawanan. Bahkan lapisan depletion layer semakin besar dan menghalangi terjadinya arus.
5.Power Supply ( Adaptor ) Sederhana
Setiap rangkaian elektronika yang membutuhkan energi listrik tentu ada
power supplynya seperti TV, DVD Player, Komputer, Amplifier dan
sebagainya. Untuk itu pada kesempatan kali ini mfathulihsan.blogspot.com akan share skema rangkaian adaptor sederhana.
Sebenarnya banyak sekali model power supply ini. Akan tetapi sebagai pemula seperti saya tentu kalau mau bikin ya dimulai dari dasar dulu. Meski sederhana tetapi sudah bisa kita gunakan untuk mencatu daya rangkaian seperti lampu flip-flop, lampu hias, rangkaian sirine dan sebagainya. Nah berikut ini adalah contoh skema rangkaiannya.
Sebenarnya banyak sekali model power supply ini. Akan tetapi sebagai pemula seperti saya tentu kalau mau bikin ya dimulai dari dasar dulu. Meski sederhana tetapi sudah bisa kita gunakan untuk mencatu daya rangkaian seperti lampu flip-flop, lampu hias, rangkaian sirine dan sebagainya. Nah berikut ini adalah contoh skema rangkaiannya.
Baca Juga Cara mengukur tegangan DC pada rangkaian elektronika
1. Skema Power supply Sederhana
Daftar Komponen
- Transformator
- Dioda 4 buah atau Dioda Bridge
- Elco ( Electrolit Condensator ) 1000uF/16V
Contoh penyambungan power supply 12 Volt DC
2. Skema Power Supply CT
Daftar Komponen
- Transformator CT
- Dioda 4 buah atau Dioda Bridge
- Elco ( Electrolit Condensator ) minimal 2 buah
Contoh Penyambungan Dengan Trafo CT
Sebenarnya untuk ukuran elco dan dioda kita sesuaikan saja dengan Trafo
dan tegangan output yang diinginkan. Oleh sebab itu jika kita ingin
membuat adaptor tegangan dibawah 12V kita bisa gunakan elco 16V,
sedangkan mengenai besar mirofarad sebaiknya diatas 1000uF, artinya
semakin besar semakin baik. Jika tegangan out 15 - 20V kita bisa gunakan
elco 25V begitu juga seterusnya. yang penting besar tegangan elco
jangan sama atau dibawahnya tegangan out adaptor. Selanjutnya untuk
dioda kita bisa pilih jenis silikon dan kita sesuaikan dengan Ampere
trafo. Semakin besar transformator semakin besar juga dioda yang kita
pasang.
Pada gambar skema diatas terdiri dari dua jenis trafo. Yang pertama
adalah trafo biasa 0 - 12V, sedangkan yang kedua adalah Trafo CT yang
menghasilkan + , 0 , - . Sehingga ada 3 tegangan keluar. Biasanya
digunakan untuk mensupply amplifier OCL.
6.Cara Mengukur Dioda yang Rusak dengan Multi tester
Cara Mengetahui Dioda Rusak dengan mudah
Dioda merupakan salah satu komponen elektronika yang berfungsi sebagai
penyearah arus listrik. Umumnya dioda banyak dipasang pada rangkaian
elektronik untuk menyearahkan tegangan AC menjadi DC. Dioda sendiri
banyak sekali jenis dan macam-macamnya, seperti dioda penyearah, zener,
LED (Light Emitting Diode), Dioda Foto dan lain sebagainya. Untuk lebih
lengkap silahkan baca postingan sebelumnya mengenai komponen elektronika, simbol dan fungsinya.
Dioda juga merupakan komponen aktif yang terdiri dari 2 buah elektroda
yaitu Anoda dan Katoda. Untuk mengetahui Dioda rusak atau tidak caranya
adalah sebagai berikut:
Lihat secara Fisik
Jika ada dioda dalam sebuah rangkaian yang kelihatan mencurigakan
seperti hangus, gosong atau pecah. Bisa jadi Dioda tersebut sudah rusak,
karena dioda sendiri jika sudah pecah atau gosong mungkin diakibatkan
karena adanya tegangan tinggi yang mengalir melebihi batas kemampuan
dioda itu sendiri. Sebab dioda penyearah biasanya dibatasi dengan Arus
dalam satuan Ampere tertentu. Namun sebenarnya jarang sekali dioda bisa
sampai pecah, meski tidak menutup kemungkinan bisa terjadi.
Cara Mengetahu Dioda Rusak dengan Multimeter
Jika anda memiliki Multimeter dirumah, ini justru akan jadi lebih mudah
karena alat ini mampu mengukur putus tidaknya suatu penghantar dengan
ohm meter. Namun sebelum itu anda harus tahu yang mana pin Anoda dan
yang mana pin Katoda, lihat gambar dibawah ini. Basanya Katoda yang ada
warna putihnya jika dilihat secara fisik.
Mengukur Dioda Penyearah
- Pertama copot dulu dioda jika masih menempel pada PCB rangkaian,
- Kemudian arahkan saklar selector pada ohm meter,
- Setelah itu tempelkan ujung pencolok merah pada kaki anoda dan yang hitam pada kaki katoda,
- Jihat pada multimeter maka jarum tidak boleh bergerak,
- Jika bergerak berarti Dioda sudah short,
- Kemudian coba dibalik anoda dengan colok hitam
- Sedangkan katoda dengan pencolok merah. maka jarum harus bergerak,
- Jika tidak berarti dioda sudah putus atau rusak.
Pertama arahkan saklar selektor Multimeter pada x1 ohm. Hubungkan ujung
colok merah multimeter dengan kaki Katoda (biasanya lebih pendek) dan
hubungkan colok hitam pada kaki anoda maka Lampu Led akan menyala, Jika
tidak berarti LED sudah rusak. Jika tidak tahu mana anoda dan katodanya
bolak balik saja, dan pastikan salah satunya bisa menyala.
Cara Menggunakan Multimeter – Multimeter adalah alat
yang berfungsi untuk mengukur Voltage (Tegangan), Ampere (Arus
Listrik), dan Ohm (Hambatan/resistansi) dalam satu unit. Multimeter
sering disebut juga dengan istilah Multitester atau AVOMeter (singkatan
dari Ampere Volt Ohm Meter). Terdapat 2 jenis Multimeter dalam
menampilkan hasil pengukurannya yaitu Analog Multimeter (AMM) dan
Digital Multimeter (DMM).Sehubungan dengan tuntutan akan keakurasian nilai pengukuran dan kemudahan pemakaiannya serta didukung dengan harga yang semakin terjangkau, Digital Multimeter (DMM) menjadi lebih populer dan lebih banyak dipergunakan oleh para Teknisi Elektronika ataupun penghobi Elektronika.
Dengan perkembangan teknologi, kini sebuah Multimeter atau Multitester tidak hanya dapat mengukur Ampere, Voltage dan Ohm atau disingkat dengan AVO, tetapi dapat juga mengukur Kapasitansi, Frekuensi dan Induksi dalam satu unit (terutama pada Multimeter Digital). Beberapa kemampuan pengukuran Multimeter yang banyak terdapat di pasaran antara lain :
- Voltage (Tegangan) AC dan DC satuan pengukuran Volt
- Current (Arus Listrik) satuan pengukuran Ampere
- Resistance (Hambatan) satuan pengukuran Ohm
- Capacitance (Kapasitansi) satuan pengukuran Farad
- Frequency (Frekuensi) satuan pengukuran Hertz
- Inductance (Induktansi) satuan pengukuran Henry
- Pengukuran atau Pengujian Dioda
- Pengukuran atau Pengujian Transistor
Bagian-bagian penting Multimeter
Multimeter atau multitester pada umumnya terdiri dari 3 bagian penting, diantanya adalah :- Display
- Saklar Selektor
- Probe

Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter
Untuk mengetahui apakah sebuah Dioda dapat bekerja dengan baik sesuai dengan fungsinya, maka diperlukan pengukuran terhadap Dioda tersebut dengan menggunakan Multimeter (AVO Meter).Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter Analog
- Aturkan Posisi Saklar pada Posisi OHM (Ω) x1k atau x100
- Hubungkan Probe Merah pada Terminal Katoda (tanda gelang)
- Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Anoda.
- Baca hasil Pengukuran di Display Multimeter
- Jarum pada Display Multimeter harus bergerak ke kanan
- Balikan Probe Merah ke Terminal Anoda dan Probe Hitam pada Terminal Katoda (tanda gelang).
- Baca hasil Pengukuran di Display Multimeter
- Jarum harus tidak bergerak.
**Jika Jarum bergerak, maka Dioda tersebut berkemungkinan sudah rusak.

Cara Mengukur Transistor dengan Multimeter Digital
Pada umumnya, Multimeter Digital memiliki fungsi mengukur Dioda dan Resistansi (Ohm) dalam Saklar yang sama. Maka untuk Multimeter Digital jenis ini, Pengujian Multimeter adalah terbalik dengan Cara Menguji Transistor dengan Menggunakan Multimeter Analog.
Cara Mengukur Transistor PNP dengan Multimeter Digital
- Atur Posisi Saklar pada Posisi Dioda
- Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Basis (B) dan Probe Merah pada Terminal Emitor (E), Jika Display Multimeter menunjukan nilai Voltage tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik
- Pindahkan Probe Merah pada Terminal Kolektor (C), jika Display Multimeter nilai Voltage tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik.
- Atur Posisi Saklar pada Posisi Dioda
- Hubungkan Probe Merah pada Terminal Basis (B) dan Probe Hitam pada Terminal Emitor (E), Jika Display Multimeter menunjukan nilai Voltage tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik
- Pindahkan Probe Hitam pada Terminal Kolektor (C), jika Display Multimeter menunjukan nilai Voltage tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik.
Cara Mengukur/Menguji Kapasitor dengan Multimeter Digital
Cara mengukur Kapasitor dengan Multimeter Digital yang memiliki fungsi Kapasitansi Meter cukup mudah, berikut ini caranya :- Atur posisi skala Selektor ke tanda atau Simbol Kapasitor
- Hubungkan Probe ke terminal kapasitor.
- Baca Nilai Kapasitansi Kapasitor tersebut.

Cara Menguji Resistor dengan Multimeter Digital
- Atur Posisi Saklar Selektor ke Ohm (Ω)
- Pilih skala sesuai dengan perkiraan Ohm yang akan diukur. Biasanya diawali ke tanda “X” yang artinya adalah “Kali”. (khusus Multimeter Analog)
- Hubungkan probe ke komponen Resistor, tidak ada polaritas, jadi boleh terbalik.
- Baca hasil pengukuran di Display Multimeter. (Khusus untuk Analog Multimeter, diperlukan pengalian dengan setting di langkah ke-2)









Komentar
Posting Komentar